KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP
ISLAM
Zaman Rasulullah SAW,
Islam maju dengan pesat dan berkembang, setelah itu sahabat-sahabatnya pun
mengembangkan Islam hingga Dunia Barat. Islam berjaya dengan penuh keagungan.
Tak ada yang memungkiri bahwa saat itu adalah saatnya islam menguasai peradaban
dunia. Ilmu dan sains baru ditemukan dalam peradaban itu. Disinilah terlihat
bahwa pada jaman itu kemampuan berpikir umat islam sudah selangkah lebih maju
dibandingkan umat-umat lainnya. Berpikir bebas, pengembangan kreativitas dan
inovasi, pluralitas berpikir, dan keyakinan akan kebenaran membawa umat ini
berjaya pada saat itu. Kejayaan itu terus berlanjut hingga umat ini kalah
perang oleh barat dan membatasi diri mereka terhadap hal-hal yang dianggap
haram dalam permikiran oleh para ulamanya, ditambah lagi ketika mereka
menggunakan ilmu dan teknologi dari barat, dan itupun hanya mengadopsi saja.
Fenomena ini terjadi setelah lebih dari seratus tahun Rasulullah SAW wafat.
Pembatasan akan informasi dan berbedaan berpikir tersebutlah yang menjadi
awalan untuk terbentuknya suatu ilmu baru.
Saat ini adalah
jamannya Islam kalah dari peradaban, yang saat ini dikuasai oleh peradaban
liberalisme dan kapitalisme. Saat ini perang peradaban yang terjadi tidak hanya
perang fisik saja, akan tetapi perang informasi dan pengetahuanlah yang ikut
berkembang disini. Penguasaan dunia saat ini tidak lagi memerlukan pengerahan
prajurit perang besar-besaran. Perang yang terjadi adalah perang teknologi dan
informasi. Umat yang menguasai media informasi maka dia akan dapat menguasai
dunia. Pemutar balikan fakta informasi sering terjadi dalam medianya tergantung
dari keberpihakan media tersebut. Media informasi dan kecanggihan teknologi
dapat mengangkat manusia dalam kemajuan peradaban atau menghancurkan peradaban
ini sendiri tergantung pemakainya. Penguasaan informasi dan teknologi saat ini
bukan dikuasai oleh umat Islam, sehingga saat ini terlihat bahwa umat Islam
tertinggal peradabannya. Teknologi informasi merupakan suatu teknologi yang
digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan
dan memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang
berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang
digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan
informasi yang strategis dalam pengambilan keputusan.
Teknologi ini
menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk
menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan
kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan
diakses secara global. Perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru
dalam kehidupan, seperti e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh
berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan saat ini sedang marak-maraknya
berbagai huruf yang dimulai dengan awalan “e” seperti e-commerce, e-government,
e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy,
dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.Disadari atau tidak, bahwa
penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datang lebih cepat adalah karena
adanya teknologi informasi. Dengan adanya internet, electronic data, electronic
interchange, virtual office dan lain sebagainya mampu menerobos batas-batas
fisik antar negara. Demikianlah penggabungan antara teknologi komputer dan
teknologi komunikasi sehingga lahirlah sebuah revolusi dalam sistem informasi.
Melihat fenomena di atas, sudah seharusnya umat ini (Islam) untuk menguasai
teknologi informasi, karena dengan demikian maka citra Islam yang buruk -baik
itu purna WTC 11 September silam ataupun karena mis informasi- dapat segera
diperbaiki.
ISLAM HARUS MENGUASAI
TEKNOLOGI KOMPUTER
Pandangan Al-Qur’an
tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui prinsip –prinsipnya
dengan menganalisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Bacalah dengan (
menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar (
manusia ) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak di ketahuinya.
Iqra terambil dari akar
kata yang berarti “ menghimpun “, dari menghimpun lahir aneka ragam makna,
seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu,
dan membaca baik tertulis maupun tidak.
Wahyu pertama tidak
menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an mnghendaki agar umatnya
membaca apa saja selama bacaan itu Bismirabbik , dalam arti bermanfaat untuk
kemanusiaan. Iqra, bacalah,
telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri–ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah
tanda–tanda zaman, sejarah diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis.
Alhasil objek perintah Iqra, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Pengulangan perintah
membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan
membaca , tidak diperoleh kecuali mengulangi – ulangi bacaan, atau membaca
hendaklah dilakukan sampai mencapai batas yang maksimal kemampuan, tetapi juga
untuk mengisyaratkan bahwa mengulang – ulangi bacaan Bismi Rabbik ( Demi karena
Allah ) menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walupun yang dibaca itu–itu
saja. Itulah pesan yang terkandung Iqra’ Warabbikal Al – Akram.
( Bacalah dan Tuhanmu
Maha Pemurah. ).
Selanjutnya dari wahyu
pertama Al-Qur’an diperoleh isyrat bahwa ada dua cara perolehan dan
pengembangan ilmu Pengetahuan. Allah mengajar dengan pena atau bacaan ( apa
yang telah diketahui manusia sebelumnya ) dan mengajar manusia tanpa pena ( apa
yang belum di ketahui manusia )
Cara pertama adalah
mengajar dengan atau atas dasar manusia, dan cara yang kedua mengajar tanpa
alat dan tanpa usaha dari manusia. Walaupun berbeda namun keduanya bersumber
dari satu sumber yaitu Allah SWT. Setiap pengetahuan
memiliki subyek dan obyek. Secara umum subyek dituntut peranannya guna memahami
obyek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa obyek terkadang memperkenalkan
diri kepada subyek tanpa usaha sang subyek. Sebagai contoh, comet halley
memasuki cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam kasus ini walaupun para
astronom menyiapkan diri dengan alat – alatnya untuk mengamati dan mengenalnya,
tetapi sesungguhnya yang paling berperan adalah kehadiran komet itu
memperkenalkan diri.
Wahyu, ilham, intuisi,
firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya atau apa yang diduga
sebagai “ kebetulan “ yang dialami oleh ilmuan yang tekun, kesemuanya tidak
lain kecuali bentuk – bentuk pengajaran Allah yang dapat di analogikan dengan
kasus komet diatas. Itulah pengajaran tanpa kalam yang di tegaskan wahyu
pertama ini.
TEKNOLOGI
Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfatkan alam bagi
kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Kalau demikian, mesin – mesin atau alat
canggih yang digunakan. Bukan itu yang di maksud dengan teknologi, walaupun
secara umum orang sering mengasosiasikan alat – alat canggih sebagai teknologi.
Mesin – mesin telah digunakan manusia sejak abad yang lalu, namun abad tersebut
belum dinamai era teknologi.
Dewasa ini, lahir
teknologi, khususnya dibidang rekayasa genetika, yang dapat mengarah untuk
menjadikan alat sebagai bantuan, bahkan menciptakan bakal-bakal alat yang akan
diperbudak dan tunduk kepada alat. Tetapi jika hasil teknologi sejak semula
diduga dapat mengalihkan manusia dari asal tujuan penciptaan, maka sejak dini
Islam menolak kehadiran hasil-hasil teknologi. Karena itu menjadi
persoalan bagi martabat kemanusiaan bagaimana memadukan kemampuan mekanik
manusia untuk menciptakan teknologi, dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya.
Bagaimana mengarahkan teknologi sehingga dapat berjalan seiring dengan
nilai-nilai Rabbany, atau dengan kata lain bagaimana memadukan antara fikir ,
dzikir, ilmu, dan iman.
KESIMPULAN
Manusia memliki naluri
untuk selalu haus akan ilmu pengetahuan, dua keinginan yang tidak akan pernah
puas, keinginan penuntut ilmu, keinginan dan keinginan penuntut harta. Hal ini
dapat menjadi pemicu bagi manusia untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan memanfaatkan anugrah Allah yang dilimpahkan kepadanya.
Oleh karena itu kita tidak bisa membendung laju teknologi, kita hanya bisa
dapat berusaha mengarahkan manusia agar tidak terlalu menuruti nafsunya,
mengumpulkan harta dan mengumpulkan ilmu teknologi yang dapat membahayakan
dirinya sendiri, karena manusia dapat menjadi seperti kepompong, membahayakan
dirinya sendiri akibat kepandainnya.
Al-Qur’an menegaskan
bahwa :
“Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti hujan yang Kami turunkan dari
langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya=karena air itu= tanam – tanaman bumi,
diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak, hingga apabila bumi
ini telah sempurna keindahannya dan penghuni penghuninya telah menduga bahwa
mereka mampu menguasainya, ( melakukan segala sesuatu ) tiba – tiba datanglah
azab Kami laksana tanam – tanaman yang sudah sabit, seakan – akan belum tumbuh
kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda - tanda kekuasaan ( kami ) kepada
orang – orang yang berfikir.”
Andriono1404.blogspot.com
Dewasa ini, lahir teknologi, khususnya dibidang rekayasa genetika, yang dapat mengarah untuk menjadikan alat sebagai bantuan, bahkan menciptakan bakal-bakal alat yang akan diperbudak dan tunduk kepada alat. Tetapi jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari asal tujuan penciptaan, maka sejak dini Islam menolak kehadiran hasil-hasil teknologi. Karena itu menjadi persoalan bagi martabat kemanusiaan bagaimana memadukan kemampuan mekanik manusia untuk menciptakan teknologi, dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya. Bagaimana mengarahkan teknologi sehingga dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai Rabbany, atau dengan kata lain bagaimana memadukan antara fikir , dzikir, ilmu, dan iman.
Andriono1404.blogspot.com